KINNEWS.ID, Jakarta – Potensi kemunculan fenomena El Nino dengan intensitas kuat hingga sangat kuat, pada 2026, kembali menjadi perhatian para ahli iklim. Fenomena ini diperkirakan dapat membawa dampak signifikan terhadap pola cuaca di Indonesia, terutama dalam bentuk musim kemarau yang lebih panjang dan kering.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa peluang terjadinya El Nino kategori sangat kuat pada tahun ini relatif kecil, namun tetap harus diantisipasi. Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG, Indra Gustari, juga menjelaskan bahwa istilah “El Nino Godzilla” bukanlah istilah ilmiah resmi.
“Berdasarkan prediksi BMKG, ter-update bulan April ini munculnya El Nino dengan kategori sangat kuat di tahun 2026 itu relatif kecil, yaitu di bawah 20 persen. Tapi bukan berarti kita bisa bersantai, kita harus tetap waspada,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa musim kemarau tahun ini diprediksi datang lebih cepat dengan durasi yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebelumnya juga mengingatkan potensi kombinasi El Nino dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
“‘Godzilla’ El Niño + IOD Positif, kedengarannya keren, tapi dampaknya nggak main-main. Kemarau bisa jadi lebih panjang, lebih kering, dan hujan makin jarang turun di Indonesia,” demikian pernyataan BRIN.
Secara ilmiah, El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator yang berdampak pada penurunan curah hujan di Indonesia.
Istilah “Godzilla” sendiri pertama kali diperkenalkan oleh klimatolog NASA, Bill Patzert, pada 2015 untuk menggambarkan El Nino dengan kekuatan ekstrem.
Risiko Kesehatan Akibat Panas Ekstrem
Selain berdampak pada lingkungan, cuaca panas ekstrem akibat El Nino juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan serius.
Menurut World Health Organization (WHO), panas berlebih dapat terjadi ketika tubuh tidak mampu melepaskan panas internal secara efektif, terutama dalam kondisi suhu tinggi, kelembapan tinggi, serta minimnya aliran udara.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti kelelahan akibat panas (heat exhaustion) hingga serangan panas (heat stroke).
Panas ekstrem juga dapat memperburuk berbagai penyakit kronis, termasuk gangguan kardiovaskular, pernapasan, diabetes, hingga masalah kesehatan mental.
Dalam kondisi tertentu, dampak panas ekstrem bahkan dapat menyebabkan rawat inap hingga kematian dalam waktu singkat jika tidak ditangani secara cepat.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca serta menjaga kondisi tubuh, terutama saat terjadi gelombang panas. (Red)
.