March 4, 2026
1000646947.jpg

KINNEWS.ID, Medan – Bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara (Sumut) dalam beberapa hari terakhir menimbulkan korban jiwa yang cukup besar. Berdasarkan data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumut, total 123 warga menjadi korban, dengan rincian 47 orang meninggal dunia, 9 orang masih hilang, dan 67 lainnya mengalami luka berat maupun ringan.

Kepala BPBD Provinsi Sumut, Tuahta Ramajaya Saragih, menyampaikan bahwa laporan korban tersebut berasal dari tujuh kabupaten/kota yang terdampak cukup parah. Kabupaten Tapanuli Selatan mencatat jumlah korban tertinggi, yaitu 73 orang, terdiri dari 15 korban meninggal dan 58 luka-luka.

“Per hari ini, total ada 123 korban. Di antaranya 47 meninggal dunia,” kata Tuahta di Medan, Kamis.

Di wilayah lain, Humbang Hasundutan melaporkan 18 korban (5 meninggal, 4 hilang, 9 luka-luka). Kota Sibolga mencatat 17 warga meninggal, sedangkan Tapanuli Utara melaporkan 8 korban (3 meninggal dan 5 hilang).

Korban jiwa juga terjadi di beberapa daerah lainnya: Tapanuli Tengah dengan 4 korban meninggal, Pakpak Bharat dengan 2 korban meninggal, serta Padangsidempuan yang mencatat 1 korban meninggal.

13 Kabupaten/Kota Terdampak Bencana

BPBD Provinsi Sumut menyebutkan bahwa hingga saat ini 13 wilayah terdampak bencana hidrometeorologi yang berupa banjir bandang, longsor, dan cuaca ekstrem. Wilayah tersebut meliputi Langkat, Tapanuli Tengah, Sibolga, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Padangsidempuan, Pakpak Bharat, Nias Selatan, Humbang Hasundutan, Binjai, Medan, dan Deli Serdang.

Selain korban jiwa, sejumlah daerah juga melaporkan pengungsian besar-besaran. Data terakhir menyatakan bahwa terdapat 776 KK mengungsi di Mandailing Natal, 3.000 jiwa mengungsi di Tapanuli Selatan, 240 KK di Padangsidimpuan, dan 19 KK di Tapanuli Utara.

Penyebab: Dampak Siklon Tropis Senyar

Kepala BBMKG Wilayah I Medan, Hendro Nugroho, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem yang terjadi beberapa hari terakhir merupakan dampak langsung dari Siklon Tropis Senyar, yang sebelumnya dikenal sebagai Bibit Siklon Tropis 95B. Sistem ini mulai berkembang sejak 21 November 2025 di perairan timur Aceh dan Selat Malaka.

“Dalam satu minggu terakhir, hampir seluruh wilayah Sumatera Utara diguyur hujan setiap hari,” ujar Hendro.

Siklon tersebut memicu hujan lebat hingga sangat lebat, angin kencang, serta gelombang tinggi. Kondisi atmosfer yang sangat lembap turut memperparah pembentukan awan hujan intens di berbagai wilayah.

“Udara yang sangat basah meningkatkan potensi terjadinya hujan ekstrem,” jelasnya.

Upaya Penanganan Berlanjut

BPBD bersama instansi terkait masih terus melakukan pencarian terhadap korban hilang dan membantu proses evakuasi warga yang terdampak. Pemerintah daerah juga disebut tengah menyiapkan langkah pemulihan secara bertahap, termasuk penanganan pengungsi, distribusi logistik, serta asesmen kerusakan infrastruktur. (Red)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *