KINNEWS.ID, Jawa Timur – Basarnas melakukan pengawalan ketat terhadap proses evakuasi pendaki Gunung Semeru setelah Badan Geologi melaporkan adanya peningkatan signifikan pada aktivitas vulkanik gunung tersebut. Evakuasi dilakukan dari kawasan Ranu Kumbolo hingga Ranupani, Lumajang, untuk memastikan para pendaki keluar dari zona berpotensi bahaya.
Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Edy Prakoso, menyampaikan bahwa pemantauan telah dilakukan sejak laporan awal diterima. Meskipun pos pendakian tidak terdampak langsung oleh erupsi, Basarnas menegaskan prioritasnya adalah keselamatan pendaki.
Dua tim SAR dari Surabaya dan Jember telah ditempatkan di Ranupani dan melakukan koordinasi dengan petugas loket pendakian TNBTS. Mereka juga menyiapkan sejumlah opsi evakuasi darurat apabila aktivitas Semeru meningkat kembali.
Petugas pos Ranupani mencatat ada 187 orang di Ranu Kumbolo, terdiri dari 129 pendaki, satu petugas, dua saver, 24 anggota PPGST, 25 pemandu, dan 6 personel Kemenparekraf. Seluruhnya diarahkan untuk turun mulai pukul 09.00 hingga 10.00 WIB. Evakuasi berjalan lebih cepat dari prediksi, meski proses masih berlangsung hingga sore hari.
Setiap pendaki yang tiba di pos dilakukan verifikasi identitas untuk memastikan seluruh daftar yang tercatat telah aman keluar dari jalur pendakian.
Gunung Semeru meletus pada Rabu, 19 November 2025 pukul 16.00 WIB dengan kolom abu setinggi 2.000 meter dan jarak luncur awan panas mencapai 7 kilometer ke arah utara dan barat laut. Aktivitas erupsi yang terekam dengan amplitudo maksimum 40 mm tersebut berlangsung selama sekitar 16 menit 40 detik dan berakhir pukul 18.11 WIB.
Meski erupsi telah berhenti, pemerintah daerah bersama Badan Geologi menetapkan status Semeru tetap di Level IV (Awas) sebagai langkah berjaga terhadap kemungkinan aktivitas susulan. (Red)
.