Tabrakan Maut kereta di Bekasi Timur terjadi pada Senin, 27 April 2026 malam
KINNEWS.ID, Bekasi – Kecelakaan kereta api tragis terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026. Insiden ini melibatkan KA jarak jauh Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line.
Hingga berita ini diturunkan, jumlah korban mencapai 15 orang meninggal dunia dan lebih dari 80 orang mengalami luka-luka. Peristiwa ini menjadi salah satu kecelakaan kereta paling memilukan dalam beberapa waktu terakhir di Indonesia.
Direktur Utama PT. Kereta Api Indonesia, Bobby Rasyidin, memastikan korban telah dievakuasi untuk proses identifikasi.
“Tercatat 15 orang meninggal dunia. Korban meninggal dunia telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut,” ujarnya.
Berawal dari Mobil Mogok di Perlintasan
Kecelakaan terjadi sekitar pukul 20.50 WIB di area emplasemen stasiun. Insiden bermula saat sebuah mobil taksi listrik mogok di perlintasan sebidang di Jalan Ampera, Bekasi, tidak jauh dari lokasi stasiun. Kendaraan tersebut tertabrak kereta dari arah berlawanan.
Seorang saksi mata mengungkapkan situasi sebelum tabrakan:
“Taksi mati, dihidupkan tidak bisa. Penjaga perlintasan sudah teriak menyuruh keluar. Mobil didorong tidak kuat, keburu datang kereta,” kata seorang saksi.
Akibat tabrakan tersebut, mobil terseret hingga sekitar 100 meter dan mengalami kerusakan parah.
KRL Berhenti, Ditabrak dari Belakang
Gangguan di perlintasan menyebabkan salah satu rangkaian KRL yang terjadwal berikutnya terpaksa terhenti di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur.
Namun dalam kondisi tersebut, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju kencang dari arah belakang tidak sempat menghentikan laju kereta sehinggga menabrak bagian belakang KRL yang terhenti tersebut.
Seorang penumpang selamat menceritakan momen mencekam tersebut:
“Yang ditabrak gerbong paling belakang, gerbong khusus wanita itu yang paling belakang,” ujar seorang saksi di lokasi kejadian.
Benturan keras terjadi pada gerbong belakang, yang menyebabkan jatuhnya korban dalam jumlah besar.
Dugaan Awal Investigasi
Dirut KAI menyatakan bahwa insiden awal di perlintasan tersebut diduga memicu gangguan sistem operasional di jalur tersebut.
“Kami menyerahkan kepada KNKT untuk lebih detail mencari tahu penyebab kecelakaan kereta pada Senin malam ini,” kata Bobby.
Investigasi resmi kini dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Perlintasan Tidak Resmi
Perlintasan di Jalan Ampera, Bekasi, diketahui bukan perlintasan resmi yang dijaga petugas KAI.
Hal ini menjadi perhatian serius karena berpotensi besar memicu kecelakaan beruntun seperti yang terjadi dalam insiden ini.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono, menyatakan akan mendorong solusi permanen berupa pembangunan infrastruktur.
“Jika flyover terbangun, perlintasan Ampera bisa ditutup. Lalu lintas akan lebih aman,” tegasnya.
Data Korban Terkini
Sebanyak 15 jenazah korban kecelakaan kereta ini telah berhasil diidentifikasi di sejumlah rumah sakit, termasuk di RS Polri Kramat Jati.
Kepala Rumah Sakit Polri, Prima Heru Yulihartono, menyampaikan perkembangan identifikasi.
Berikut identitas 15 jenazah yang teridentifikasi:
RS Polri Kramat Jati:
1. Tutik Anitasari (P/31)
2. Harum Anjasari (P/27)
3. Nur Alimantun Citra Lestari (P/19)
4. Farida Utami (P/52)
5. Vica Acnia Fratiwi (P/23)
6. Ida Nuraida (P/48)
7. Gita Septia Wardany (P/20)
8. Fatmawati Rahmayani (P/29)
9. Arinjani Novita Sari (P/25)
10. Nur Ainia Eka Rahmadhyna (P/32)
RSUD Bekasi:
1. Nuryati (P/41)
2. Nur Laela (P/39)
3. Engar Retno Krisjayanti (P/35)
Sementara itu, puluhan korban lainnya masih menjalani perawatan intensif di berbagai rumah sakit di Bekasi dan Jakarta. (Red)
.